Abadi.

varawayoveroz:

Disclaimer : cerpen ini adalah sebuah karya fiksi yang saya buat berdasarkan lagu dan video klip dari Porter Robinson dan Madeon, “Shelter”.





Seorang lelaki berjas putih berjalan keluar dari pintu ganda yang lebar itu menghampiri seorang lelaki berambut berantakan yang dari tadi hanya mondar-mandir di depan lorong rumah sakit tersebut.

“Dok, bagaimana kondisi anak dan istri saya, dok?” Matanya melebar, menunggu kepastian dari lelaki bertubuh tambun itu. Namun, tatapannya hanya terbalas oleh wajah penuh penyesalan.

“Kami sudah mengerahkan seluruh tenaga kami, namun pendarahan yang dialami oleh istri bapak sudah tidak dapat tertolong lagi. Maafkan kami.” Wajah antusias lelaki itu berubah menjadi duka. Sebuah duka yang teramat dalam baginya, kehilangan tulang rusuknya sekaligus seorang penopang hidupnya.

“Namun,” sambung dokter itu. “Anak bapak masih dapat bertahan meski terlahir prematur dengan tubuh yang sangat mungil. Dia adalah seorang gadis yang tangguh.”

Dia memperhatikan bayi mungilnya yang terbaring di dalam inkubator. Sesekali ia menggerakkan tubuh mungilnya yang masih lemah itu, sesekali pula ia terlihat kesulitan bernapas. Air mata duka lelaki itu berganti menjadi air mata bahagia. Seorang ayah yang melihat gadisnya berada di atas bumi pertama kalinya, satu-satunya harta berharganya di dunia ini. Demi menjaga hartanya tersebut, sekian hari setelah kelahiran putri tunggalnya dia memilih meninggalkan pekerjaannya yang sebagai peneliti dan pakar pada sebuah perusahaan teknologi terkemuka di Jepang dengan penghasilan yang sangat fantastis perbulannya.

“Rin. Namamu Rin.”


Tokyo, 7 tahun kemudian.

Sebuah panggilan dengan nomor yang tidak dikenalinya mengusik paginya. Iapun mengangkat panggilan itu sambil menyiapkan sarapan bagi putrinya, Rin.

“Shigeru-san! Apakah benar ini nomormu?” Suara yang familiar itu memanggil-manggil namanya dari sseberang telepon.
“Iya, benar. Maaf, ini dari siapa?”
“Sebelumnya, saya dari perusahaan lama tempat anda bekerja sepuluh tahun yang lalu, E-Future Corp. Kami tertarik pada ide anda 11 tahun yang lalu untuk membuat sebuah simulasi hidup secara virtual dengan cara mengimplan chip pada tulang belakang pada tubuh manusia. Kami rasa, ide tersebut akan sangat cocok untuk digunakan pada video-video game agar dapat terasa semakin nyata. Apakah Shigeru-san memiliki waktu untuk membicarakan hal penting ini?”
“…Ah, kebetulan sa-”
“Baiklah! Satu jam lagi saya akan tiba di rumah anda. Terima kasih atas waktunya!”
Bip.

“Tadi itu siapa, Yah?” Tanya Rin.
“Oh, itu teman lama Ayah. Satu jam lagi dia akan kemari,” jawab Shigeru. “Krayon di ruang tengah tolong dibereskan ya, nak. Nanti kalau berantakan dia bisa bingung.”
“Siaaap!”

Bel berbunyi, tanda seorang datang bertamu. Karena Sang Ayah yang masih sibuk di dalam gudang, akhirnya Rin-lah yang membukakan pintunya. Seorang lelaki paruh baya terlihat berdiri seorang diri di depan pintu, menyapa gadis itu secara sopan dan tersenyum.
“Wah, kamu yang bernama Rin, kan? Kamu tumbuh sangat cepat sekali, ya,” sapa lelaki itu.
“Iya, aku Rin. Om yang tadi telepon Ayah mau kesini sejam yang lalu, ya?”
“Wah, Rin dengar percakapan orang besar ya? Pendengaranmu bagus sekali ya, hahaha!” Tak lama kemudian Shigeru berjalan ke depan, lalu sontak membungkukkan tubuhnya dengan sangat dalam. “Ternyata anda, Bapak Direktur! Silahkan, silahkan masuk!”


“Tentu saja, Pak. Semakin lama, teknologi sudah tentu dapat berkembang lebih cepat.”
“Saya sangat menyayangkan kejadian 7 tahun yang lalu, Shigeru-san. Istri anda adalah seorang wanita tangguh yang sangat mendedikasikan seluruh ilmunya bagi perkembangan teknologi, terutama pada perusahaan kami. Kehilanganya juga merupakan sebuah kehilangan terbesar pada perusahaan kami, dan kami juga merasa kehilangan seorang pemikir gila pada perusahaan kami, yaitu kamu. Shigeru-san.” Tangan lelaki yang ubannya telah memakan separuh kepalanya itu menyodorkan sebuah surat kontrak beserta sebuah pena pada Shigeru. “Kami sangat membutuhkan bantuanmu kembali, Shigeru-san. Tolong pertimbangkan kesempatan emas ini kembali.
“Maafkan saya, Pak Direktur. Saya meminta maaf sebesar-besarnya. Saya tidak dapat menerima penawaran ini,” jawab Shigeru dengan tegas.
“Jangan khawatir, Shigeru-san! Saya akan memberikan gaji terbaik untukmu, dan putri anda akan mendapatkan jaminan hidup pula!”
“Maafkan saya. Jika saya mengambilnya, saya akan kehilangan waktu-waktu saya bagi Rin. Lagipula, pekerjaan saya yang sekarang sebagai programmer kerja lepas juga sudah mencukupi kehidupan kami berdua, kok.
Wajah lelaki itu terlihat kecewa. Ia beranjak dari sofa hitam yang telah didudukinya selama setengah jam itu. Sebuah penolakan yang tegas dan mantap dari Shigeru.
"Baiklah. Namun, saya akan tetap menunggu sampai kapanpun keputusan anda. Tangan perusahaan kami akan selalu terbuka bagi anda, Shigeru-san.” Lelaki itupun meninggalkan rumah mungil tersebut dan menaiki mobil sport miliknya, lalu meninggalkan rumah tersebut.

Tanpa disadari, Rin telah menguping pembicaraan mereka berdua selama 30 menit tadi dari balik pintu kamarnya. Wajahnya memerah dan matanya berkaca-kaca. Akhirnya, tangisan itu terpecah dari matanya.
“Ayah jangan pergi, Yah. Ayah bakalan terus sama Rin, kan? Rin takut, Yah.” Shigeru kaget dengan kalimat yang terucap dari gadis kecilnya. Diapun langsung memeluk tubuh gadis mungilnya tersebut sambil ikut menangis juga.
“Ayah ga akan kemana-mana, kok. Ayah bakal terus jaga Rin sampai kapanpun!” Jawab Shigeru sambil mengusap kepala gadis kecil tersebut. “Bagaimanapun yang terjadi, Ayah akan selalu berada di sisimu. Sampai kapanpun.”


Tokyo, 3 tahun kemudian di musim panas.

Dihimbau kepada semua orang di seluruh dunia, 7 hari lagi diperkirakan sebuah asteroid berkode MJQ-390-B775i akan menghantam atmosfir bumi. Diharapkan untuk berlindung di dalam bunker yang disediakan oleh pemerintah setempat yang berada tertanam di bawah tanah.
Kemungkinan akan hancur semua. Semoga semua siap pada waktunya, batin Shigeru sambil menyisir rambut gadis mungilnya itu. Mereka berdua berencana pergi menuju kuil untuk memohon keselamatan kepada dewa dan para roh pelindung. Sebuah musim panas yang sangat berbeda karena hampir tidak ada seorang pun terlihat berlalu-lalang di jalanan, atau bahkan dimanapun. Kota besar itu menjadi sebuah kota hantu. Sekembalinya dari kuil, Shigeru yang mengendarai sedan kecilnya memandangi jalanan sekitar dan anak semata wayangnya: Rin. Dia ingin melindunginya sekaligus menemaninya sampai kapanpun, seperti janjinya. Namun, seluruh persiapan yang ia kerahkan selama puluhan tahun ini hanya dapat mampu digunakan oleh Rin seorang saja.

Hati kecilnya berkecamuk. Dirinya ingin menangis, namun hatinya tak sanggup.


Tokyo, 5 jam sebelum asteroid menghantam bumi

Dunia semakin senyap. Hanya terdengar lolongan suara anjing tetangga yang telah ditinggal majikannya yang sudah entah kemana, dan suara-suara tangisan yang menyayat hati. Orang-orang yang sudah merelakan seluruh hidupnya, orang-orang yang telah putus asanya, orang-orang yang sudah siap dicabut nyawanya. Rin dan Shigeru menyusuri tangga dan lorong lorong gelap pada bawah rumahnya yang telah dibangun oleh Shigeru selama bertahun-tahun. Shigeru telah mengetahuinya sejak awal, namun karena minimnya teknologi pada saat itu dirinya hanya dianggap sebagai orang gila oleh para koleganya. Sekarang, ramalannya memang benar-benar terjadi. Namun bedanya, dirinya sudah sangat siap.
“Ayah jangan pergi, ya. Rin takut,” tangis Rin sambil memegangi jas lab milik ayahnya dengan erat.
“Ayah bakal di sini terus, kok. Rin gausah takut, ya,” ucap Shigeru dengan lirih sambil mengoperasikan tombol-tombol yang ada pada komputer super besar itu. Dia ingin memastikan bahwa anaknya selamat dan bahagia ditengah hancurnya dunia karena hantaman asteroid yang sangat besar hingga dapat meluluhlantakkan seluruh bumi. Setelah semua sudah siap, dia menyuruh Rin duduk diatas kursi yang sudah ada. Karena takut akan terasa sakit, Shigeru menyuntikkan cairan bius ke dalam pembuluh darah Rin.
“Kamu tidur dulu ya, nak. Ayah akan disini terus, kok. Jangan takut.” Shigeru berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya. Setelah terbius total, dia mulai memasang kabel simulator dan penyangga hidupnya secara perlahan, namun pasti. Terkadang, titik-titik air mata menetes dari matanya, namun dirinya harus tegar.


System Reboot, Loading…


Selamat Datang di Sistem, Rin!


Tangis bahagia mengucur deras dari mata Shigeru. Tangis bahagia yang bercampur duka, karena dia merasa waktu hidupnya sudah habis.
“Maafkan Ayah, Rin. Ayah tidak dapat menemanimu terus. Jaga dirimu baik-baik di dalam sistem, ya,” kata Shigeru sambil mengusap kepala dan mencium kening putrinya untuk terakhir kali. Diapun pergi, meninggalkan seluruh kenangan dan harta hidupnya. Pergi untuk menyusul istrinya yang telah meninggalkannya ketika melahirkan Rin.


“A-ayah…”

Gadis berambut merah jambu itu hanya dapat menangis di tengah lautan piksel setiap teringat ayahnya, Shigeru. Berkat seluruh mesin penopang hidupnya pula, sekarang dia telah berusia ribuan tahun jika dikalkulasikan dengan kalender bumi.

Tubuh aslinya telah membusuk, namun dirinya telah menyatu dengan sistem yang tertimbun di bawah permukaan bumi itu. Dia telah abadi, bersama komputer-komputer bertenaga nuklir yang merupakan warisan dari kedua orangtuanya ketika semasa hidupnya.

Thanks Dillon Francis, Diplo, Skrillex and Porter Robinson. Your music saved my life.
#djakartawarehouseproject #Skrillex #Diplo #dillonfrancis #porterrobinson #jacku #majorlazer #edm #edmlife #edmfamily
sashakatz:
“ Handjob series I / kofenata’s hand
”
whitetrash-official:
“ a headline i never thought i would see
”
<---DONT REMOVE---->
A snazzyspace.com Theme A snazzyspace.com Theme